Selasa, 18 Januari 2011

Sejarah Teknik Industri

Pengertian tentang keilmuan teknik industri dapat diperoleh dari pengetahuan mengenai peristiwa sejarah, para pioneer, dan organisasi yang berperan penting periode awal perkembangan teknik industri. Perkembangan teknik industri merupakan sumbangsih dari banyak orang dari berbagai bidang, terdapat beberapa pioneer yang memformulasikan konsep dan tujuan teknik industri, serta beberapa individu lain yang menjadi pengikut dan mengembangkan konsep teknik industri lebih lanjut. Sistem pendidikan dan kurikulum dikembangkan oleh universitas-universitas untuk mendidik para praktisi teknik industri. Perusahaan swasta membuka diri untuk menerapkan konsep-konsep baru teknik industri, dengan dibantu oleh para konsultan yang menyediakan pelatihan dan pengawasan. Organisasi profesi teknik industri didirikan untuk mewadahi komunitas penggiat keilmuan teknik industri dan menyediakan forum untuk memperdebatkan konsep, aplikasi praktis, dan filosofi teknik industri. Konstribusi utama dari organisasi berupa publikasi berisi hasil penelitian resmi dan mengandung informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengakuan dari lembaga negara, dan penggunaan tenaga kerja di perusahaan milik negara, juga merupakan faktor yang penting dalam sejarah perkembangan teknik industri.
Meskipun pengetahuan mengenai proses produksi yang efektif dan efisien telah dikenal pada era Leonardo Da Vinci, namun para cendekiawan menyetujui bahwa kelahiran ilmu teknik industri terjadi pada akhir abad ke-19, diprakarsai oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915) yang dikenal sebagai bapak teknik industri.
Pada tahun 1878, Taylor memiliki perhatian terhadap nasib buruh di Midvale Steel Company. Dia berpendapat bahwa seharusnya buruh diberi kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuan kerjanya, sehingga memiliki kesejahteraan hidup yang lebih baik. Taylor berpendapat bahwa buruh selayaknya menerima insentif gaji sebesar 25% dari gaji standarnya sesuai dengan kenaikan produktivitas tanpa harus mengalami kelelahan. Taylor tidak menyarankan penambahan kecepatan kerja seperti yang dikemukakan oleh salah satu ikatan pekerja. Sebaliknya, dia mencari cara untuk menentukan berapa unit yang harus diproduksi oleh pekerja sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.
Setelah bekerja selama tiga tahun di Midvale Steel Company, Taylor melakukan eksperimen pengukuran waktu kerja menggunakan stopwatch, untuk mencari output kerja yang efektif dan efisien. Selanjutnya, eksperimen tersebut berkembang menjadi sebuah studi mengenai aplikasi ilmu pengetahuan dan penelitian ilmiah pada pemotongan logam. Kemudian, penelitian ini berlanjut selama dua puluh tahun dengan lokasi perusahaan yang berbeda dengan biaya $200.000. Pada penelitian tersebut, Taylor menemukan bahwa jumlah proses pemotongan logam dipengaruhi oleh 12 faktor, 11 faktor diantaranya adalah konstanta dan sebuah faktor merupakan variabel yang dapat direkayasa. Formulasi matematis berhasil dikembangkan untuk menghitung jumlah logam yang dipotong tiap satuan waktu. Percobaan pemotongan logam tersebut berhasil menentukan pekerjaan yang standar bagi buruh dengan penerapan pengetahuan ilmiah.
Pada tahun 1885, Frank Gilbreth (1868-1924) melakukan penelitian tentang metode penyusunan batu (bricklaying experiment). Gilbreth menemukan bahwa para pekerja tidak melakukan gerakan yg sama ketika sedang menyusun batu bata, bahkan terdapat beberapa tukang batu yang menggunakan tiga metode yang berbeda dalam bekerja, yaitu : (1) metode bekerja pada saat rutinitas kerja, (2) metode kerja ketika dituntut untuk bekerja cepat, dan (3) metode kerja ketika sedang memberi contoh pada pekerja lain. Gilbreth berpendapat bahwa harus ada sebuah metode standar pekerjaan yang dibuat secara sistematik oleh manajemen bukan oleh opini individu.
Gilbreth melakukan menganalisa tiap elemen kerja yang terdapat dalam pekerjaan penyusunan batu, dan bertujuan untuk mengeliminasi gerakan yang tidak perlu. Gilbreth mengurangi gerakan dari delapan belas gerakan menjadi 4,5 gerakan dalam setiap penyusunan sebuah batu. Separuh gerakan dapat dihilangkan dengan cara mencampur kapur pada dua batu bata pada satu waktu. Sebuah penopang dibuat untuk  landasan peletakan batu bata, sehingga batu tersebut dapat diletakkan dengan mudah  pada saat dinding bertambah tinggi. Pekerja akan meletakan batu bata pada level yang tepat setiap waktu, tanpa harus berhenti dan mengangkat 200 pon dari berat badannya setiap dia mengambil batu bata atau campuran kapur.
Gilbreth berpendapat bahwa buruh yang kurang terampil hanya diperbolehkan untuk mengerjakan pekerjaan yang kurang penting. Sedangkan tukang batu yang ahli dipekerjakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih sulit. Konsep ini dipengaruhi oleh konsep Adam Smith tentang pembagian buruh (division of labor), dan konsep Charles Babbage yang terdapat dalam buku On the Economy and Manufactures  tentang anak-anak atau wanita yang mempunyai ketrampilan kerja yang lebih rendah menerima upah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pria.
Prinsip sistem kerja yang diusulkan oleh Gilbreth menghendaki pembelajaran dari keseluruhan operasi kerja, dan tidak memandang setiap tempat kerja sebagai single entity. Hubungan antar setiap tempat kerja dianalisa, sehingga dapat diketahui aliran proses pekerjaan. Gilbreth membagi aliran proses pekerjaan ke dalam empat proses, yaitu operasi, transportasi, penyimpanan, dan inspeksi. Bagan ini masih digunakan sampai sekarang dan sangat membantu para insinyur teknik industri untuk memvisualisasikan proses pengolahan bahan mentah sampai produk jadi. Gilbreth membagi gerakan pekerja ke dalam 18 gerakan yang memiliki waktu standar, dan menyebutnya sebagai elemen gerakan therbligh. Kata therbligh berasal dari kebalikan huruf pada nama Gilbreth, agar tidak ada orang lain yang mengklaim terlebih dahulu. Konsep Gilbreth memungkinkan penerapan sains pada analisis dan desain pekerjaan, dilakukan secara lebih teliti. Kemudian, Gilbreth menginspirasi lahirnya micromotion study dan predertermined time sistems. Lalu, Gilbreth membuat flow chart beserta rekomendasi untuk menganalisis setiap operasi, transportasi, penyimpanan, dan tahapan inspeksi, sehingga dapat memberikan gambaran sistem produksi secara keseluruhan. Flow chart tersebut dilengkapi dengan alat-alat untuk melakukan perbaikan sistem, termasuk penanganan material, kontrol persediaan, dan prosedur inspeksi, melalui analisis operasi. Oleh karena itu, Gilbreth mengembangkan dan mempublikasikan teknik-teknik dasar untuk mendesain dan membuat metode standar suatu pekerjaan – hal ini dikenal sebagai fondasi dari teknik industri. Hasil eksperimen bricklaying dipublikasikan pada awal tahun 1908. Gilbreth melanjutkan penelitian tersebut ketika dia bekerja sebagai management engineer di the New England Butt Company pada tahun 1912 hingga 1917. Selanjutnya, dia membuat sebuah sistem yang disebut dengan scientific management as a whole dan mengembangkan studi tentang gerakan (motion study).
Pada tahun 1886, Henry Towne menerbitkan tulisan berjudul The Engineer as Economist. Konsep pemikiran Towne adalah pentingnya pertimbangan seberapa besar profit yang dapat diterima perusahaan dalam setiap keputusan yang diambil oleh engineer. Pemikiran Towne diperdebatkan oleh para ahli selama bertahun-tahun, dan mengilhami dibentuknya divisi manajemen di ASME.
Pada tahun 1898, Taylor melakukan eksperimen penyekopan di Bethlehem Steel Corporation. Tujuan dari percobaan tersebut adalah untuk menemukan secara tepat berapa berat sekop yang paling cocok untuk diangkat oleh buruh dalam periode waktu kerja tertentu tanpa mengakibatkan kelelahan fisik yang berlebihan. Taylor menemukan bahwa sekop seberat 21,4 pon dapat menghasilkan jumlah penyekopan tiap hari yang maksimum. Disamping itu, Taylor juga melakukan standarisasi metode penyekopan dan berat material yg diangkat, untuk menemukan gerakan yang menyebabkan tingkat kelelahan paling kecil. Namun, konsep pemikiran ini belum teruji, karena tidak ada rekaman data yang dapat menunjukkan perbedaan efektivitas penggunaan sekop. Hasil dari percobaan ilmiah ini adalah adanya kebutuhan sekop yang berbeda tiap pekerja, tergantung pada jenis dan berat material yang diangkat (batubara, besi scrap, atau lembaran kayu). Taylor menemukan bahwa terdapat pemborosan waktu kerja di Bethlehem Steel Works, yang disebabkan oleh  seringnya pekerja untuk mengambil alat dan perlengkapan serta material di gudang yang berjarak terlalu jauh. Masalah tersebut diatasi oleh Taylor dengan cara merekomendasikan untuk memperbaiki tata letak pabrik,  membuat kartu instruksi pekerja dengan catatan indikasi tipe peralatan yg dibutuhkan, dan rekomendasi untuk membangun sebuah pusat gedung untuk perawatan dan pemeriksaan alat. Perbaikan tersebut dinilai memiliki efek perubahan yang besar pada sebuah organisasi manufaktur, terutama : (1)adanya kebutuhan untuk mengembangkan sebuah departemen Teknik Industri yang berguna untuk mengembangkan studi waktu dan gerakan untuk menetapkan standar output produksi, perancangan metode kerja yang standar, dan pengaturan alat dan mesin, (2)adanya perubahan fungsi gudang sebagai tempat penyimpanan alat dan material menjadi Departemen Pelayanan, yang berperan untuk mengatur persediaan dan mengembangkan sistem pemesanan, (3)Departemen Personalia difungsikan untuk menentukan deskripsi kerja dan menyusun sistematika seleksi pekerja, (4)Departemen Pelatihan dibutuhkan untuk mengarahkan pekerja baru bekerja sesuai dengan metode standar, (5)layout fasilitas manufaktur didesain untuk memastikan agar perpindahan material dan pekerja menjadi minimal, (6)adanya kebutuhan untuk melakukan perencanaan produksi dilakukan secara cermat setiap hari, sehingga dibutuhkan Departemen Perencanaan Produksi, dan (7)diperlukan adanya insentif bagi pekerja. Penerapan perbaikan tersebut memberikan implikasi efisiensi berupa penurunan jumlah pekerja yang dibutuhkan dari 400-600 pekerja menjadi 140 pekerja untuk menangani beban kerja yang sama, sehingga biaya tenaga kerja dapat dihemat sebesar $ 78.000 tiap tahun.
Pada tahun 1901, Istilah Industrial Engineering digunakan pertama kali oleh James Gunn dalam sebuah majalah berjudul The Engineering Magazine. Dia berpendapat bahwa profesi dan kurikulum mengenai teknik industri dapat disusun selayaknya seperti teknik mesin atau teknik elektronika.
Pada tahun 1901 hingga 1902, Kursus manajemen pabrik (shop management) pertama diperkenalkan oleh Hugo Diemer di Kansas University.
Pada tahun 1903, Artikel berjudul Shop Management ditulis oleh Frederick W. Taylor, dan diterbitkan dalam Transaction of the American Society of Mechanical Engineers.
Pada tahun 1908, Kurikulum Teknik Industri diperkenalkan pertama kali oleh Hugo Diemer di Pennsylvania State College.
Pada tahun 1910, terdapat tiga macam even penting, yaitu (1) pertemuan pertama perkumpulan The Society dilakukan untuk mempromosikan materi The Science of Management, (2) istilah Scientific Management digunakan oleh Louis Brandels dalam pertemuan ICC, dan (3) penerbitan karya tulis ilmiah pertama kali di bidang Teknik Industri, berjudul Factory Organization and Administration ditulis oleh Hugo Diemer.
Pada tahun 1911, mahakarya The Principles of Science Management ditulis oleh F.W. Taylor. Taylor berhasil mengembangkan prinsip-prinsip manajemen ilmiah (scientific management), yang berisi panduan tugas dan tanggung jawab para manajer  yang berwenang untuk mendesain pekerjaan bagi buruh. Empat prinsip scientific management adalah sebagai berikut :
  1. Develop a science for each element of a man’s work, which replaces the old rule of thumb method
  2. Select scientifically and then train, teach, and develop the workman, whereas previously he chose his own work methods and trained himself as best as he could
  3. Cooperate heartily with the men so as to ensure that all of the work being done is in accordance with the principles of the science which has been develop
  4. There is almost an equal division of the work and the responsibility between management and the workmen. The management takes over all work for which they are better fitted than the workman.
Empat prinsip manajemen ilmiah merupakan sebuah “ Revolusi Mental” yang memperbaiki cara bekerja dan hubungan antara buruh dan manajer, sehingga  buruh memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuan kerjanya dan memiliki kesejahteraan hidup yang lebih baik, dengan cara menentukan metode dan output produksi sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien, tanpa adanya kelelahan yang harus dialami buruh. Taylor adalah orang yang pertama kali menganjurkan untuk memberikan kelonggaran (allowance) waktu kerja dan jam istirahat bagi buruh untuk meningkatkan produktivitas kerja. Pada testimoni yang ditulis pada tahun 1912, Taylor tidak mengklaim bahwa dirinya sebagai satu-satunya pencetus munculnya scientific management, karena scientific management bukanlah sesuatu yang baru tetapi merupakan kumpulan dari beberapa sumber yang dikembangkan secara skematis. Pengembangan metode skematis  inilah yang mendorong timbulnya bidang keilmuan teknik industri.
Pada tahun 1911, Gilbreth menerbitkan buku Motion Study yang berisi tentang penelitian penyusunan batu bata (bricklaying). Dalam buku ini, dia menjelaskan bahwa terdapat tiga  variabel yang terlibat dalam pekerjaan, yaitu: (1) variabel pekerja, (2) variabel lingkungan kerja, dan (3) variabel gerakan kerja. Penyelidikan tentang hubungan variabel lingkungan dan variabel dikembangkan menjadi bidang studi baru bernama human factor. Saat itu, Frank Gilbreth yang berusia dua belas tahun lebih muda daripada Taylor, mengakui bahwa F.W. Taylor adalah orang pertama yang mempelopori scientific management. Pada tahun yang sama, buku berjudul Principles of Industrial Engineering diterbitkan oleh Charles Going, dan didirikan Organisasi profesi American Society of Safety Engineers (sebelumnya bernama United Society of Consulting Inspectors ) di Amerika Serikat.
Pada tahun 1912, para pioneer, cendekiawan, akademisi, konsultan, dan manajer industri, berkumpul pada pertemuan tahunan the American Society of Mechanical Engineers (ASME). Para pioneer yang terlibat adalah Frederick W. Taylor, Frank Gilberth, Henry Gantt, dan Henry Towne. Pendidik professional awal yang berkontribusi adalah Hugo Diemer yang mengawali kurikulum teknik industri di Pennsylvania State College pada tahun 1908, dan William Kent yang mengorganisasi kurikulum pendidikan teknik industri di Syracuse University pada tahun yang sama. Pihak lain yang hadir adalah Dexter Kimball yang membuat kursus akademis tentang administrasi pekerjaan di Cornell University pada tahun 1904, dan C. Bertrand Thompson yang menjadi instruktur materi organisasi industri di Harvard yang mengajarkan implementasi dari konsep Taylor. Para konsultan yang menghadiri acara tersebut diantaranya adalah Carl Barth yang merekomendasikan pengajaran konsep Taylor diajarkan di Harvard, S.E. Thompson dan K. Hathaway yang menjadi pengajar di Harvard. Manajer dari sektor industri yang terlibat adalah John Aldrich dari New England Butt Company yang mempresentasikan pernyataan publik dan film tentang micromotion study, James Dodge yang menjabat sebagai ketua komite dan presiden Belt Company, serta Henry Kendall yang berbicara tentang fungsi pekerja sebagai bagian dari manajemen ilmiah (scientific management) di dunia industri. Dua orang editor buku menghadiri pertemuan, yaitu Charles Going dari The Engineering Magazine, dan Robert Kent editor dari majalah Industrial Engineering. Lillian Gilbreth adalah pioneer yang tidak hadir, karena saat itu wanita tidak diijinkan untuk menghadiri pertemuan ASME. Pertemuan yang terjadi di New York ini merupakan sebuah acara yang menghasilkan informasi yang lengkap tentang asal usul teknik industri.
Pengertian bahwa Taylor sebagai bapak scientific management dipertanyakan beberapa kali. Salah satu keraguan tersebut ditulis dalam buku berjudul Golden Book of Management yang disunting oleh Lyndall Urwick. Konsep Taylor dianggap mirip dengan hasil penelitian Charles Babbage pada proses produksi pin. Kemiripan tersebut diantaranya penggunaan tabel yang memuat data biaya, waktu tiap operasi, dan total waktu proses operasi. Melalui tabel ini, Babbage mengembangkan hasil pemikiran Adam Smith tentang pembagian pekerja (division of labor), yaitu penghematan biaya dapat dilakukan dengan cara menggunakan wanita dan anak-anak yang memiliki ketrampilan rendah daripada menggunakan tenaga kerja laki-laki yang memiliki ketrampilan yang lebih tinggi untuk melakukan tujuh macam operasi. Meskipun demikian, Babbage yang mengunjungi pabrik sebagai pengamat, tidak memberikan masukan untuk memperbaiki metode kerja pembatan produk, tidak memberikan masukan untuk mengurangi waktu kerja yang dibutuhkan, atau memberikan kontribusi pemikiran untuk menetapkan standar waktu kerja yang ideal. Hal yang tidak dilakukan oleh Babbage tersebut dilakukan oleh Taylor. Hal tersebut merupakan sumbangan pemikiran asli dari Taylor dan dianggap sebagai esensi awal mula teknik industri. Pada awal pengembangan time study di Midvale Steel Works, segala ilustrasi kemungkinan pergerakan kerja manusia dipelajari secara khusus, dan dilakukan pengukuran waktu menggunakan jam. (tidak ada satupun ilustrasi pergerakan kerja tersebut menjadi perhatian pribadi Taylor). Setiap pekerja secara jelas dibatasi pada kasus tertentu, dan dibatasi pada durasi yang pendek, dan (paling penting dari sudut pandang sejarah) hal tersebut tidak memberikan petunjuk untuk pengembangan sebuah profesi yang baru, atau lebih tepatnya aktivitas ilmiah yang baru, yaitu the profession of time study (presentasi Taylor berjudul “The Present State of the Art of Industrial Engineering” 1912).
Pada 1912, konferensi ASME diwarnai oleh sikap skeptis, terutama mengenai isu perbaikan sistem industri melalui pendekatan keilmuan teknik industri. Barth, seorang pengikut teori Taylor yang telah menerapkan scientific management di perusahaan Link-Belt, mengindikasikan (terkait dengan penggunaan motion picture equipment) adanya keraguan untuk menggunakan penggunaan motion picture equipment dalam time study pada pekerjaan yang menggunakan mesin (The Present State of the Art of Industrial Management, 1912). Kent, yang telah mempublikasikan buku-buku tentang motion study karangan Gilbreth pada tahun 1911, menegaskan bahwa “micromotion study merupakan tool terbaik untuk mengukur efisiensi dari pekerja(The Present State of the Art of Industrial Management, 1912). Menurut komite penyelenggara pertemuan ASME 1912, pernyataan-pernyataan diatas dianggap sebagai pernyataan yang tidak toleran diantara sesama ahli ilmu manajemen. Komite berharap agar semangat kerjasama dibangun oleh para ahli bidang manajemen. Ralph Barnes, dalam buku Motion and Time Study edisi keenam, menyatakan bahwa kontroversi dari kedua teknik, motion study dan time study, selayaknya tidak perlu ada, karena kedua teknik tersebut merupakan keilmuan tak terpisahkan dan saling melengkapi. Motion and time study dikembangkan menjadi konsep desain dan pengukuran kinerja. Motion and time study merupakan judul buku Barnes yang berikutnya. Buku tersebut memberikan credit kepada Taylor dan Gilbreth yang dianggap sebagai penemu awal teknik industri.
Pada tahun 1912, Taylor berpidato dihadapan komite khusus dari House of Representative (Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat) yang menguji konsep ajaran Taylor. Taylor berkata bahwa “ Scientific management bukanlah suatu alat untuk mengejar efisiensi, yang berfungsi  untuk menjaga efisiensi, juga bukan sekelompok alat untuk menciptakan efisiensi. ini bukan suatu sistem yang baru untuk menghitung biaya, bukan skema yang baru untuk menghitung gaji pegawai. Ini bukanlah sistem bonus, sistem premium, dan tidak terdapat skema untuk pembayaran pegawai, bukan juga mengatur waktu tiap pekerja dan menuliskan sesuatu tentangnya, juga bukan time study, motion study ataupun motion analysisi. Ini juga bukan tentang mencetak dan mengatur satu atau dua ton orang yang buta terhadap sistem dan mengatakan “ Ini dia sistemmu, sekarang terapkan” Sistem ini bukan tentang membedakan antara mandor biasa dan mandor yang fungsional, Ini juga bukan suatu alat yang mana pekerja dengan kemampuan rata-rata terangkat kemampuannya. Pekerja dengan kemampuan rata-rata akan berpikir satu atau dua kali ketika dia mendengar kata scientific management. Saya tidak menemukan sistem untuk pengaturan biaya, pada time study, pada pekerja fungsional dan apapun tentang pembayaran gaji pekerja ataupun tentang efisiensi kalau memang scientific management ini adalah alat yang dibuat untuk meningkatkan efisiensi.  Saya percaya mereka, tetapi apa yang saya yakini  bahwa alat tersebut bukanlah scientific management, hal tersebut berguna untuk menjembatani kearah scientific management, sehingga hal tersebut juga berguna untuk menjembatani sistem manajemen yang lain.(Taylor 1947)”. Scientific management merupakan perubahan paradigma berpikir untuk memperbaiki cara bekerja dan hubungan antara buruh dan manajer, sehingga  buruh memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuan kerjanya dan memiliki kesejahteraan hidup yang lebih baik, dengan cara merancang metode kerja dan menentukan output produksi sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien, tanpa adanya kelelahan yang harus dialami buruh. Pada saat itu, Taylor berhasil mempertahankan konsepnya di depan anggota DPR Amerika Serikat, sehingga teknik industri mendapatkan pengakuan dari pemerintah setempat.
Pada tahun 1913, Kursus scientific management yang pertama kali diadakan di the University of Tennessee.
Pada tahun 1914, Gantt chart digunakan pertama kali dalam penjadwalan di perusahaan Frankford Arsenal.
Pada tahun 1915, Rumus economic lot size ditemukan oleh Frederick Harris, Buku Engineering Economy ditulis oleh John Fish, dan organisasi profesi American Society of Safety Engineers dibentuk.
Pada tahun 1917, organisasi profesi bernama Society of Industrial Engineers didirikan.
Pada tahun 1920, Divisi Management didirikan di dalam ASME (American Society of Mechanical Engineers) akibat pengaruh dari pemikiran Henry Towne yang menyarankan agar para insyiyur mempertimbangkan profit ekonomi dalam setiap tindakan yang diambil.
Pada tahun 1920, perusahaan-perusahaan belum tertarik untuk mengadopsi empat prinsip scientific management secara utuh, karena tidak melihat adanya penghematan pengeluaran yang dapat diperoleh secara langsung. H.K. Hathaway, seorang pengikut Taylor, mengembangkan prinsip scientific management sehingga menjadi lebih jelas dan dapat dipahami oleh perusahaan. H.K. Hathaway mengembangkan 13 langkah penerapan scientific management, yaitu :
  1. Perencanaan umum yang menyangkut organisasi, perencanaan dan pembagian departemen kerja. Pembagian tugas, wewenang dan aktivitas tiap departemen. Penentuan hubungan dan tanggung jawab antar departemen.
  2. Penataan tiap departemen secara fisik, termasuk penentuan peralatan atau perlengkapan yang digunakan sesuai kebutuhan setiap depertemen, dan disesuaikan dengan rencana umum pada point yang pertama, serta dihindari adanya duplikasi penggunaan peralatan.
  3. Pengumpulan data yang terkait dengan produk.
  4. Pengumpulan data yang terkait dengan mesin dan perlengkapan pabrik.
  5. Standardisasi mesin dan perawatan mesin.
  6. Standardisasi peralatan dan gudang penyimpanan peralatan
  7. Pengembangan sistem pergudangan untuk menentukan minimum jumlah pemesanan pada tiap komponen.
  8. Pengembangan perencanaan sistem pemesanan
  9. Modifikasi sistem pencatatan waktu, mengetahui waktu dari mesin yang sedang idle, menentukan insentif gaji sesuai waktu kerja.
  10. menentukan sistem routing yang menggambarkan proses produksi sebuah produk
  11. Perencanaan dan penggunaan mekanisme kerja untuk memproses dan mengontrol pekerjaan yang sedang berlangsung (work in progress).
  12. Penggunaan Time study untuk mengembangkan metode kerja yang standar, penentuan pemakaian alat, mesin dan material serta lingkungan kerja yang standar.
  13. Pengguaan sistem akuntansi biaya.

Pada tahun 1922, terdapat pendirian dua buah organisasi profesi, yaitu National Personnel Association, dan American Management Association.
Pada tahun 1924, muncul dua buah tools yang digunakan dalam bidang teknik industri, yaitu Quality Control Charts diciptakan oleh Shewhart, dan Motion time analysis diperkenalkan oleh A.B. Segur. Disamping itu, International Committee on Scientific Management (CIOS) sebagai organisasi profesi teknik Industri berskala internasional didirikan pertama kali di Swiss.
Pada tahun 1929, organisasi profesi American Manufacturing Association didirikan.
Pada tahun 1933, Organisasi profesi bernama Association of Consulting Engineers dibentuk.
Pada tahun 1936, Society for the Advancement of Management didirikan.
Pada tahun 1937. Konferensi Allan Mogensen`s Lake Placid tentang penyederhanaan metode kerja (work simplification) diselenggarakan.
Pada tahun 1941, Karya tulis berjudul The Structure of American Economy, 1919-1929 ditulis oleh Wassily.
Pada tahun 1946, Statistical Quality Control (SQC) diperkenalkan oleh Eugene Grant, dan organisasi profesi bernama American Society for Quality Control dibentuk.
Pada tahun 1948, pembentukan organisasi profesi American Institute of Industrial Engineers (AIIE) yang dimotori oleh Wyllys Stanton.
Pada tahun 1949, Organisasi profesi The American Material Handling Society didirikan di Amerika Serikat
Penerapan sains pada suatu sistem manajemen disebut sebagai scientific management, kemudian istilah tersebut berubah menjadi teknik industri seiring dengan perkembangan jaman. Berdirinya organisasi profesi AIIE (American Institute of Industrial Engineers) pada tahun 1948, menjadi faktor penting dalam pengembangan keilmuan teknik industri. Organisasi tersebut  berfungsi sebagai fasilitator berbagai penelitian, diskusi, dan seminar, sehingga berbagai macam tools dan teknik baru dapat dikembangkan.
Peter Drucker, dalam buku The Age of Discontinuity, menyatakan bahwa konsep produktivitas kerja tidak memiliki arti apapun, sebelum para insyiyur teknik industri menemukan cara untuk mengukur produktivitas tersebut. Namun, peningkatan produktivitas mendorong terciptanya sebuah kebutuhan terhadap keilmuan baru untuk mewujudkan peningkatan produktivitas. Hal ini mendorong perubahan dalam kehidupan dan perekonomian global. Peter Drucker menyebutkan bahwa scientific management dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan, sehingga disebut dengan istilah knowledge economy.
Drucker mengamati bahwa Taylor melakukan terobosan dengan cara melakukan edukasi kepada pekerja sehingga dapat melakukan pekerjaan manual sesuai dengan standar yang telah dibuat dengan scientific management. Sebelumnya sebuah pekerjaan diyakini sebagai suatu hal yang tidak dapat diubah (given by God or by nature), sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja dibutuhkan kerja yang lebih keras. Menurut Taylor, hal tersebut adalah salah, karena sebenarnya sebuah pekerjaan dapat dirancang secara ilmiah dan pekerja dapat dilatih untuk mengimplementasikan rancangan kerja tersebut. Taylor berpendapat bahwa kunci dari peningkatan produktivitas kerja adalah ilmu pengetahuan bukan keringat, atau dikenal dengan istilah work smarter, don’t work harder.
Sesungguhnya, prinsip-prinsip scientific management bukan berasal dari ide untuk melakukan efisiensi kerja atau meningkatkan pendapatan bagi perusahaan pengguna tenaga kerja, melainkan dari rasa simpati sosial dari sebuah konflik antara tenaga kerja dan pemilik modal. Scientific management memiliki perhatian pada perancangan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan kapabilitas tenaga kerja, sistem pengupahan yang adil sesuai dengan kontribusi pekerja, sehingga sehingga mencegah terjadinya kerja rodi.
Penerapan scientific management diyakini dapat meningkatkan produktivitas kerja ratusan kali lipat. Konsep tersebut merupakan sumbangsih pakar dari Amerika Serikat yang memiliki pengaruh fenomenal dan dapat diterima di seluruh dunia (Drucker, 1968).
Person menyatakan dalam kata pengantar buku Scientific Management edisi tahun 1947, bahwa Prinsip Taylor telah mengalami degradasi makna, karena para pelaku industri dan pelajar telah gagal untuk menangkap pesan sosial dari konsep tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya fokus perhatian pada prinsip yang pertama saja, dan melupakan prinsip-prinsip scientific management yang lain. Para pelaku industri dan pelajar hanya tertarik pada tata cara untuk melakukan konservasi energy dan meningkatkan produktivitas kerja di sebuah pabrik. Namun, beberapa pelaku industri menyatakan bahwa semua prinsip, filosofi, dan teknik scientific management perlu dieksplorasi lebih dalam dan perlu dipandang dengan perspektif yang lebih luas. Prinsip-prinsip, filosofi, dan teknik scientific management dapat digunakan untuk memecahkan masalah konservasi energi, tidak hanya pada tataran pabrik, namun juga pada tingkat nasional dan global (Person 1947).
Semakin kompleks masalah tenaga kerja, potensi tenaga kerja, dan peran teknik industri dalam masyarakat, berikut ini adalah rekomendasi untuk mengembangkan keilmuan teknik industri oleh Frank Cotton ketika menjabat sebagai presiden AIIE :
1.      Kita harus menembus batasan analisis teknologi dan desain untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, dengan mempertimbangkan karakateristik masyarakat berdasarkan faktor geografis (desa atau kota), politik, ekonomi, adat istiadat, dan etika setempat yang berlaku.
2.      Kita harus menggunakan pengetahuan dari ilmu sosial dalam pengembangan teknologi, dan menggabungkan faktor perancangan dan aplikasi teknologi dengan faktor peningkatan kesejahteraan manusia dan lingkungannya.
3.      Kita harus mengembangkan suatu kelompok lintas profesi dan lintas fungsi untuk mengembangkan suatu keahlian interdisplin sociotechnical untuk menyelesaikan permasalahan yang semakin kompleks. Organisasi profesi lintas disiplin perlu dibuat untuk mengembangkan teori dan metodologi baru, demi mengatasi masalah kemanusiaan dan meningkatkan kesejahteraan manusia.

Pada tahun 1978, para anggota AIIE memberi definisi baru dari industrial engineering ketika terdapat perubahan perspektif dari metode pengoperasian sebuah mesin menjadi sebuah sistem terintegrasi yang melibatkan manusia, material, perlengkapan dan energy. Setelah itu, istilah industrial sistem engineering menjadi cakrawala baru perjalanan keilmuan teknik industri.






disarikan dari:
Buku Origin of Industrial Engineering oleh Howard P. Emerson dan Douglas C.E. Naehring, dan di terbitkan pada tahun 1988 oleh Industrial Engineering and Management Press, Institute Industrial Engineers.

Apa itu Teknik Industri ?

Teknik Industri adalah salah satu cabang ilmu keteknikan baru yang lahir pada awal abad ke-20. Keilmuan baru ini dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang semakin kompleks yang terjadi akibat pesatnya perkembangan industri pasca revolusi industri. Kompleksitas masalah tersebut sudah tidak dapat dipecahkan secara parsial oleh para insyiyur yang memiliki keahlian spesifik, misalnya insyiyur mesin yang ahli di bidang mekanis dan insyiyur sipil yang ahli di bidang infrastruktur statis saja. Oleh karena itu, muncul gagasan untuk mengembangkan sebuah disiplin baru yang memandang permasalahan perindustrian secara komprehensif.

Embrio teknik industri diyakini berawal pada pada masa Adam Smith (1776). Pemikiran mengenai pembagian kerja secara spesifik diketahui dapat meningkatkan keahlian spesial pekerja, sehingga didapatkan peningkatkan output kerja. Selanjutnya, Charles Babbage (1832) menyumbangkan pemikiran mengenai perhitungan gerak dan waktu untuk mendapatkan metode operasi manufaktur yang paling ekonomis. Lalu, Henry Towne (1886) berkontribusi berupa pemikiran bahwa pada setiap keputusan yang diambil, seorang perekayasa harus mempertimbangkan seberapa besar profit yang dapat diterima perusahaan.

Kelahiran teknik industri dibidani oleh Frederick W. Taylor (1856-1915) dan ditandai dengan adanya penerbitan buku Principles of Scientific Management pada tahun 1911. Pendekatan ilmiah berupa pengukuran waktu dan gerak (time and motion study) digunakan untuk mendesain standar operasi kerja dan standar pengupahan. Output yang dihasilkan adalah efisiensi kerja yang didapat dari penggunaan standar operasi kerja, serta sistem pengupahan yang adil berdasarkan kontribusi yang diberikan oleh pekerja. Prinsip-prinsip scientific management adalah sistem operasi kerja yang menghasilkan turunnya biaya dan meningkatkan produktivitas kerja, sistem pengupahan yang adil sehingga dapat meningkatkan semangat kerja karyawan, dan sistem pengendalian mutu.

Teknik Industri dikembangkan untuk mengatasi problem secara terintegrasi, yaitu dengan penguasaan secara menyeluruh terhadap perancangan, perbaikan, dan instalasi dari sistem yang terdiri manusia, mesin, material, informasi, dan energi untuk meningkatkan produktivitas kerja dan meningkatkan efisiensi operasi kerja.

Penyelesaian masalah secara komprehensif memerlukan pengetahuan dan ketrampilan yang baik di bidang Matematika, Fisika, Ilmu Sosial, beserta pengetahuan tentang Prinsip Engineering, Metode Analisis Engineering, dan Perancangan (Desain), sehingga dapat mengelaborasi permasalahan, memprediksi masalah yang akan terjadi, dan mengevaluasi pada sebuah permasalahan sistem industri.

Menurut disiplin ilmu Teknik Industri, permasalahan sistem industri dapat dielaborasi dengan dua macam macam, yaitu Human Activity System dan Management Control System. Human Activity System adalah cara untuk mengatasi permasalahan yang terkait segala aspek fisik pada aktivitas kerja, baik dari sisi perancangan sistem maupun pengoperasian sistem. Perancangan Sistem terdiri dari analisis permintaan pasar, kemudian penentuan jenis produk yang akan diproduksi beserta perancangan proses produksinya, lalu penentuan kapasitas produksi, pemilihan lokasi, hingga perancangan detail tata letak fasilitas produksi. Selanjutnya, Pengoperasian Sistem merupakan tata cara yang menjelaskan bagaimana seharusnya produksi dijalankan, misalnya penjadwalan produksi, material handling, dan tata cara pengoperasian mesin. Sedangkan, Management Control System memiliki konsentrasi pada pembuatan perencanaan (planning), metode pengukuran (measuring), dan tata cara pengontrolan (controlling) pada setiap aktivitas kerja dengan tujuan untuk memastikan agar Human Activity System yang telah didefinisikan dapat dijalankan dengan baik.

Disiplin Teknik Industri memiliki obyek telaah yang terbentang luas dari tingkat stasiun kerja, manufaktur (fasilitas produksi), perusahaan, hingga sistem produksi. Bidang keilmuan yang digeluti adalah Ergonomi, Production Planning and Control, Quality Control, Operational Research, Lay Out Design, Management, hingga Policy Making. Bidang keilmuan Teknik Industri masih terus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi hingga saat ini.